• Gleneagles Singapore

Kanker Payudara

  • Apakah Itu Kanker Payudara?

    Kanker payudara terjadi ketika ada pertumbuhan jaringan abnormal dalam payudara. Sel-sel abnormal ini membelah tak terkendali dan menghasilkan jaringan ekstra yang disebut tumor, yang dapat dibedakan menjadi tumor jinak (nonkanker) dan tumor ganas (kanker). Tumor ganas atau tumor yang bersifat kanker ini dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ketika massa tumor sudah cukup besar, maka pasien dapat merasakan adanya benjolan yang merupakan salah satu gejala awal kanker payudara paling umum.

    Kanker payudara secara umum dapat dibedakan menjadi kanker payudara invasif dan noninvasif. Sesuai namanya, kanker payudara invasif terjadi ketika sel kanker menyebar dan menyerang jaringan di sekitarnya. Sedangkan kanker payudara noninvasif adalah kondisi ketika kanker tidak menyebar ke jaringan lain dan tetap berada dalam saluran susu atau lobula dalam payudara. Kanker noninvasif kadang disebut juga kondisi “prakanker” atau kanker “in situ”, yang berarti “ada di tempat yang sama”.

    Secara lebih spesifik, ada beberapa jenis kanker payudara. Berikut adalah jenis kanker payudara yang paling umum dijumpai:

    • Kanker payudara noninvasif:
      • Karsinoma duktal in situ (ductal carcinoma in situ atau DCIS)

        Kanker ini menyerang sel-sel yang melapisi jaringan saluran susu (duktus). DCIS sering dianggap sebagai bentuk paling awal dari kanker payudara. Pada tahap ini, pertumbuhan sel-sel kanker belum menyebar ke jaringan payudara di sekitarnya atau bersifat noninvasif, sehingga tidak mengancam nyawa dan dapat disembuhkan. Namun, kondisi ini dapat berkembang menjadi kanker payudara invasif jika tidak dilakukan penanganan.

      • Karsinoma lobular in situ (lobular carcinoma in situ atau LCIS)

        LCIS dipicu oleh pertumbuhan sel secara abnormal pada lobulus atau kelenjar penghasil susu di ujung saluran payudara. Jenis kanker payudara ini tidak menyebar atau bersifat noninvasif, tetapi dapat meningkatkan risiko kanker payudara invasif di kedua payudara jika tidak ditangani.

    • Kanker payudara invasif:
      • Karsinoma duktal invasif (invasive ductal carcinoma atau IDC)

        IDC ditandai dengan kanker yang mulai tumbuh di saluran susu dan telah menyerang jaringan fibrosa atau lemak payudara. IDC adalah jenis kanker payudara paling umum, di mana 7 – 8 dari 10 kasus kanker payudara termasuk ke dalam kategori ini. Kanker ini dapat menyebar ke area tubuh yang lain.

      • Karsinoma lobular invasif (invasive lobular carcinoma atau ILC)

        ILC berawal dari kelenjar penghasil air susu (lobulus), lalu menyebar ke jaringan sekitarnya melalui saluran getah bening dan aliran darah. Kasus ILC mewakili sekitar 10 – 20% dari kasus kanker payudara dan cenderung menyerang wanita berumur 45 – 55 tahun meskipun tidak menutup kemungkinan terjadi di usia lainnya.

    Selain jenis kanker payudara di atas, ada beberapa jenis kanker payudara lainnya yang tergolong langka. Misalnya saja: kanker payudara inflamasi yang sangat agresif, penyakit paget yang hanya menyerang puting dan areola, tumor filodes (phyllodes) yang menyerang jaringan ikat, angiosarkoma yang sangat jarang terjadi (hanya sekitar 1% dari kasus total), dan lainnya.

    gambar mewakili kesadaran kanker payudara

  • Penyebab kanker payudara belum dapat dipastikan. Meskipun begitu, ada sejumlah faktor yang berperan dalam meningkatkan risiko kanker payudara, seperti berikut ini:

    • Genetik

      Kanker payudara memiliki peluang lebih tinggi terjadi pada wanita dengan anggota keluarga yang mengidap penyakit yang sama. Selain itu, wanita dengan jaringan payudara yang padat memiliki risiko yang tinggi, karena lebih banyaknya sel yang mungkin terjangkit kanker.

    • Hormonal

      Perubahan hormon dapat memicu pembelahan sel yang abnormal dan mempertinggi risiko kanker payudara. Wanita yang menjalani terapi hormon estrogen dan progesteron setelah menopause memiliki kemungkinan lebih tinggi terserang kanker payudara. Selain itu, konsumsi pil kontrasepsi dapat sedikit meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita.

    • Usia

      Pada dasarnya, wanita dengan usia lebih tua berisiko mengidap kanker payudara daripada wanita berusia muda. Wanita yang mulai menstruasi pada usia sangat muda (di bawah 12 tahun) juga ditengarai lebih berisiko mengalami kanker payudara. Selain itu, wanita yang belum mengalami menopause hingga usia 55 tahun juga berisiko lebih tinggi untuk menderita kanker payudara.

    • Keberadaan tumor sebelumnya

      Tumor jinak pada payudara bukanlah kanker. Namun, hal ini dapat meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara di kemudian hari.

    • Belum pernah hamil atau melahirkan pada usia tua

      Wanita yang belum pernah hamil dan menyusui memiliki risiko kanker payudara lebih besar dibandingkan wanita yang sudah pernah hamil dan menyusui. Wanita yang baru memiliki anak di atas usia 30 tahun lebih berisiko mengalami kanker payudara.

    • Paparan radiasi

      Wanita yang pernah menjalani prosedur radioterapi lebih rentan untuk mengalami kanker payudara.

    • Gaya hidup (obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol), yang secara umum meningkatkan risiko terjangkit kanker

  • Salah satu gejala awal kanker payudara yang paling umum diketahui adalah terasanya benjolan di sekitar payudara. Di samping itu, terdapat berbagai gejala dan ciri-ciri kanker payudara lainnya. Penderita mungkin mengalami satu atau beberapa gejala kanker payudara sekaligus.

    • Benjolan tanpa rasa nyeri dalam payudara. Tidak semua benjolan bersifat kanker. Beberapa ciri benjolan yang dicurigai merupakan gejala kanker payudara di antaranya:

      • Keras dan padat
      • Bentuknya tidak teratur
      • Benjolan terletak seperti di antara kulit dan jaringan di bawahnya
      • Mungkin muncul di area mana pun di payudara, tetapi paling sering di bagian atas sebelah luar
    • Benjolan juga mungkin ditemukan di sekitar ketiak
    • Perubahan warna kulit payudara menjadi kemerahan seperti iritasi. Tekstur kulit payudara terasa seperti kulit jeruk dan mungkin membengkak, menebal, atau mengelupas
    • Puting payudara dan area sekitarnya mengeras, gatal, sakit, atau tertarik ke dalam. Puting juga mungkin mengalami perdarahan atau mengeluarkan cairan nanah

    Mengingat gejala kanker payudara sering kali tidak jelas, khususnya pada stadium awal, wanita disarankan untuk melakukan diagnosis mandiri – atau “periksa payudara sendiri” (disingkat “SADARI”) meskipun tidak merasakan gejala kanker payudara. Periode pemeriksaan SADARI yang dianjurkan adalah seminggu setelah menstruasi dan dilakukan secara rutin setiap bulan. Dengan melakukan pemeriksaan mandiri rutin, wanita dapat mengenali payudaranya sendiri dan lebih sensitif terhadap perubahan.

    Ketika menemukan keganjilan, pasien dapat segera memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan saran diagnosis yang lebih akurat. Bersama-sama dengan kebiasaan SADARI, prosedur diagnosis dini dan pemeriksaan medis skrining secara rutin adalah langkah penting dalam mengantisipasi kanker payudara. Dengan deteksi dini, maka dokter dapat merumuskan penanganan kanker payudara yang paling tepat sehingga meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

    Ada beberapa prosedur diagnostik kanker payudara biasa dilakukan, di antaranya:

    • Mamografi

      Pencitraan dengan sinar-X untuk mendapatkan gambar jaringan payudara. Hasil dari mamografi disebut mamogram, yang dapat menunjukkan keberadaan tumor, kanker, kista, atau penumpukan kalsium pada jaringan payudara.

    • Ultrasonografi (USG)

      Pemindaian dengan memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi atau ultrasonik untuk mendapatkan gambaran mendetail tentang jaringan dan struktur dalam payudara.

    • CT-scan

      Pemeriksaan diagnostik untuk memeriksa jaringan payudara dengan memanfaatkan pemotretan dengan sinar-X dari beberapa perspektif yang diolah komputer. Hasil dari CT-scan bukan hanya menunjukkan citra tulang, organ, dan jaringan yang lebih mendetail, tetapi juga dapat menunjukkan lokasi, bentuk, serta ukuran tumor yang lebih akurat.

    • MRI

      Teknologi pencitraan dengan menggunakan magnet dan gelombang radio. Hasil yang didapatkan berupa citra payudara dengan jaringan lunak yang tergambar sangat jelas.

    • Biopsi

      Pengambilan sampel jaringan yang digunakan untuk mengevaluasi apakah jaringan tersebut bersifat jinak atau ganas (kanker).

  • Cara mengobati kanker payudara sangat tergantung kondisi yang dihadapi. Usai diagnosis, dokter akan mengevaluasi tingkat keparahan (stadium) kanker dan kesehatan pasien secara umum, sehingga dapat memberikan pilihan saran penanganan terbaik. Berikut ini adalah beberapa prosedur penanganan kanker payudara yang umumnya dilakukan:

    • Pembedahan atau operasi
      1. Lumpektomi – pengangkatan kanker dan sebagian jaringan di sekelilingnya
      2. Kuadrantektomi – pengangkatan seperempat payudara yang memiliki benjolan
      3. Mastektomi – pengangkatan seluruh payudara
    • Prosedur terapi yang mencakup:
      • Kemoterapi, penanganan menggunakan serangkaian obat kanker payudara khusus yang berfungsi mematikan sel kanker
      • Terapi hormon, jika kanker payudara disebabkan oleh gangguan hormonal dan diketahui bahwa sel kanker tersebut sensitif terhadap hormon. Terapi ini bertujuan untuk menghambat pertumbuhan sel kanker yang dipengaruhi kadar hormon
      • Terapi target, merupakan prosedur terapi yang ditargetkan secara khusus terhadap sel kanker tanpa merusak sel-sel di sekitarnya
      • Terapi radiasi untuk membunuh sel-sel kanker dengan sinar-X berenergi tinggi
      • Rehabilitasi yang mencakup dukungan gizi dan gaya hidup untuk membantu pemulihan serta latihan perawatan bahu dan lengan untuk menghindari kekakuan dan pembengkakan

    Pada dasarnya, semakin rendah tingkat keparahan (stadium) kanker payudara maka semakin banyak juga pilihan penanganan atau pengobatan kanker payudara yang bisa dilakukan. Sebagai contoh, prosedur operasi semakin jarang disarankan seiring bertambahnya tingkat keparahan kanker dan prosedur terapi lebih diutamakan untuk kanker stadium lanjut.

  • Komplikasi terkait kanker payudara berkaitan erat dengan metastasis, yaitu penyebaran kanker ke organ atau jaringan lainnya. Kondisi ini biasanya terjadi pada stadium lanjut. Komplikasi umum di organ lain biasanya ditemui di bagian tubuh seperti kelenjar getah bening, tulang, paru-paru, hati, dan otak.

    Selain itu, komplikasi juga dapat muncul akibat penanganan kanker payudara itu sendiri. Misalnya saja, penanganan dengan kemoterapi dapat menyebabkan sariawan, mual, dan diare. Sedangkan, terapi radiasi dapat menyebabkan rasa nyeri seperti terbakar dan terbentuknya jaringan parut.

    Prosedur diagnosis dini pun mungkin mengakibatkan efek samping. Mamografi dapat meningkatkan risiko terjadinya kanker akibat radiasi. Prosedur MRI mungkin menyebabkan rasa mual, pusing, dan sensasi rasa logam di mulut akibat reaksi alergi dari zat kontras. Efek samping dari USG dapat berupa reaksi alergi terhadap gel yang digunakan, meskipun sangat jarang terjadi. Namun dalam sebagian besar kasus, manfaat dari prosedur diagnostik tersebut jauh lebih besar daripada risikonya.

    Kanker payudara adalah kanker nomor satu di Indonesia, dengan lebih dari 65.000 kasus baru pada tahun 2020. Menjalani deteksi dini berupa tes skrining dan prosedur diagnostik yang tepat adalah langkah kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan sekaligus mengurangi risiko kesehatan serta finansial pasien. Sedangkan pemilihan perawatan yang tepat sangat bergantung pada kondisi pasien serta hasil evaluasi dokter demi memaksimalkan dampak positif penanganan dan mengantisipasi efek samping (jika ada).

    Silakan buat janji temu dan berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi kami untuk mengetahui pilihan komprehensif terbaik yang tersedia bagi Anda di Gleneagles Hospital Singapura.

    Buat Perjanjian

  • Spesialis Kami

    Ada 31 SpesialisLihat Semua

    Ada 31 SpesialisLihat Semua