• Gleneagles Singapore

Kanker Kolon

  • Apakah Itu Kanker Kolon?

    Kanker kolorektal, yang mencakup kanker kolon dan kanker rektum, adalah kondisi pertumbuhan abnormal dalam usus besar atau rektum. Kanker kolorektal dapat meliputi baik kanker kolon dan/atau kanker rektum. Istilah yang lebih spesifik ini tergantung di mana lokasi kanker kolorektal berada. Kanker kolon terjadi di kolon, bagian terpanjang dari usus besar, sedangkan kanker rektum terjadi di bagian akhir usus besar sebelum anus.

    Kebanyakan kanker kolorektal berawal dari munculnya polip kolorektal, baik berupa polip usus maupun polip anus. Polip kolorektal ini sebenarnya bersifat jinak atau nonkanker, tetapi sebagian polip kolorektal ini ada yang mungkin mengalami mutasi DNA sehingga berkembang secara abnormal dan berubah menjadi polip kolorektal yang ganas atau bersifat kanker.

    Kemungkinan perubahan polip jinak menjadi kanker kolon atau kanker rektum bergantung pada jenis polip kolorektal itu sendiri, yang dapat dibedakan menjadi:

    • Polip adenoma, merupakan polip kolorektal jinak yang berawal dari jaringan epitel. Polip ini mungkin menjadi sel kanker sehingga disebut sebagai kondisi prakanker.

    • Polip hiperplastik, merupakan polip kolorektal yang cukup umum terbentuk dan memiliki kemungkinan kecil untuk berubah menjadi kanker.

    Pada tahun 2020, kanker kolon merupakan jenis kanker ke-6 yang paling banyak ditemukan kasus barunya di Indonesia, dengan lebih dari 17.000 kasus baru per tahun. Sedangkan kanker rektum berada di posisi ke-8 dengan lebih dari 16.000 kasus baru setiap tahunnya. Jika digabungkan, kanker kolorektal menduduki posisi 4 di Indonesia. Kanker kolorektal juga menempati posisi-2 sebagai kanker dengan kasus baru paling banyak diderita pria di Indonesia, hanya berada di bawah kanker paru-paru. Sedangkan untuk wanita Indonesia, kanker kolorektal menduduki posisi nomor 4.

    Kanker Kolon

  • Penyebab kanker kolon sama seperti penyebab kanker lainnya, yaitu pertumbuhan sel-sel secara abnormal menjadi kanker. Namun, alasan yang membuat sel-sel tersebut bermutasi sehingga menjadi penyebab kanker kolon belum diketahui secara jelas.

    Di samping itu, ada faktor-faktor yang teridentifikasi dapat meningkatkan risiko terjangkit kanker kolon, seperti:

    • Usia, di mana 9 dari 10 orang yang menderita kanker kolon atau kanker rektum berusia 50 tahun ke atas
    • Genetik, di mana sindrom tertentu seperti sindrom Lynch dan familial adenomatous polyposis dapat meningkatkan risiko kanker kolorektal
    • Riwayat penyakit usus, polip kolorektal, atau kanker jenis apa pun
    • Memiliki kerabat yang menderita kanker kolon atau kanker rektum
    • Gangguan pada usus atau lambung, seperti penderita radang usus (kolitis ulseratif) atau penyakit Crohn berisiko lebih tinggi
    • Obesitas atau berat badan berlebih
    • Diabetes, khususnya diabetes tipe 2
    • Paparan radiasi, termasuk akibat sinar-X dari terapi radiasi pada bagian perut yang dapat memicu mutasi gen
    • Gaya hidup (pola makan daging merah atau daging olahan, kurang berolahraga, memiliki kebiasaan merokok, konsumsi alkohol berlebihan, dan lainnya)
  • Gejala kanker kolon atau rektum sangat beragam dan bergantung pada ukuran, letak, dan tahap perkembangan kanker. Secara umum, gejala kanker kolorektal mencakup:

    • Perubahan kebiasaan buang air besar (diare atau konstipasi)
    • Perasaan tidak tuntas setelah buang air besar
    • Mual atau muntah-muntah
    • Perasaan letih setiap saat
    • Bercak darah (berwarna merah menyala atau merah sangat pekat) pada feses
    • Perut kram atau sering mengalami sakit saat buang gas
    • Sensasi perut kembung atau seperti terlalu kenyang
    • Berat badan menyusut tanpa alasan jelas

    Gejala kanker kolon terlihat mirip dengan masalah kesehatan lainnya. Selain itu, ciri kanker kolon kerap kali tersamar dan tidak terasa jelas, khususnya pada tahap awal. Maka dari itu, pemeriksaan rutin sangat disarankan untuk mengantisipasi kemungkinan kanker kolon – khususnya bagi mereka yang berumur lebih dari 50 tahun.

    Ada beberapa prosedur diagnostik dan tes skrining yang umum dilakukan untuk mendeteksi keberadaan kanker kolon atau kanker rektum. Setiap prosedur memiliki keunggulan tertentu dan dokter dapat menganjurkan prosedur yang paling sesuai dengan kondisi pasien. Berikut adalah prosedur yang biasanya ditempuh:

    • Pemeriksaan feses, dilakukan untuk memeriksa adanya darah dalam feses atau perubahan DNA.
    • Sigmoidoskopi, dengan menggunakan alat berupa selang tipis berkamera dan lampu bernama sigmoidoskop. Alat ini dimasukkan dari anus ke dalam kolon dan bertujuan untuk melihat ada tidaknya polip kolorektal atau kanker.
    • Kolonoskopi, mirip dengan sigmoidoskopi tetapi menggunakan selang yang lebih panjang. Hal ini memungkinkan memeriksa seluruh bagian kolon.
    • CT kolonografi, pada dasarnya ini adalah kolonoskopi dengan memanfaatkan perangkat CT-scan untuk mendapatkan visual kolon atau usus besar secara utuh.

    Jika keberadaan kanker kolon atau kanker rektum terkonfirmasi dari prosedur skrining, pemeriksaan lanjutan dilakukan untuk menentukan stadium kanker. Jenis prosedur yang dilakukan dapat berupa:

    • Pemindaian (foto rontgen, CT-scan, PET-scan, dan MRI)
    • Biopsi, dengan mengambil sampel kelenjar getah bening untuk diteliti di laboratorium
    • Tes darah, salah satunya untuk mengukur kadar CEA (carcinoembryonic antigen) yang menjadi indikasi seseorang mengidap kanker kolorektal
  • Diagnosis dan penanganan kanker kolon atau kanker rektum sedini mungkin dapat meningkatkan peluang kesembuhan. Pilihan penanganan atau pengobatan kanker kolon akan tergantung banyak faktor, termasuk kondisi pasien dan stadium kanker yang diderita.

    Berikut adalah ikhtisar dari stadium kanker kolon:

    • Stadium 0. Kanker terdapat pada lapisan terdalam dinding kolon.
    • Stadium 1. Kanker sudah menembus lapisan kedua (mukosa) dan menyebar ke lapisan ketiga (submukosa), tetapi belum menyebar ke luar dinding kolon.
    • Stadium 2. Kanker menyebar ke luar dinding kolon, dan mungkin sudah menyebar ke organ terdekat, tetapi belum menyebar ke kelenjar getah bening.
    • Stadium 3. Kanker sudah menyebar ke luar dinding kolon serta ke salah satu atau beberapa kelenjar getah bening.
    • Stadium 4. Kanker sudah menembus dinding kolon, dan menyebar ke organ yang relatif jauh dari usus besar, seperti hati atau paru-paru.

    Dokter mungkin akan menyarankan satu prosedur penanganan atau kombinasi dari prosedur untuk meningkatkan efektif pengobatan kanker kolon. Berikut adalah ragam pilihan penanganan kanker kolorektal:

    • Pembedahan atau operasi, yang merupakan langkah utama dalam menangani kanker kolorektal. Pilihan ini mungkin dilakukan di semua stadium kanker. Prosedur pembedahan di antaranya:
      • Kolostomi untuk membuka bagian luar tubuh dengan tujuan mengalirkan kotoran
      • Pembedahan lokal (tertutup), dilakukan dengan laparoskopi atau pembedahan lubang kunci
      • Pembedahan terbuka untuk mengangkat kanker dan sebagian jaringan kolon serta nodus limfa (getah bening) di sekitarnya
    • Kemoterapi, dengan menggunakan obat-obatan kimia yang bertujuan untuk membunuh dan menghentikan pembelahan sel-sel kanker. Kemoterapi umumnya diterapkan pada kasus kanker stadium 2 dan di atasnya.
    • Terapi radiasi atau radioterapi, dengan menggunakan sinar-X untuk membunuh sel kanker. Prosedur ini biasanya digunakan untuk kombinasi penanganan pada kanker stadium 3 dan 4.
    • Terapi target, untuk memblokir pertumbuhan kanker dengan hanya memengaruhi sel-sel tertentu yang terjangkiti kanker.
    • Pembedahan krio (cryosurgery), prosedur yang bertujuan untuk membekukan dan menghancurkan sel kanker dengan nitrogen cair.

    Menjalani deteksi dini berupa tes skrining dan prosedur diagnostik yang tepat adalah langkah kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mengurangi risiko kesehatan dan finansial. Sedangkan pemilihan perawatan yang tepat sangat bergantung pada kondisi pasien serta hasil evaluasi dokter demi memaksimalkan dampak positif penanganan dan mengantisipasi efek samping (jika ada).

    Silakan buat janji temu dan berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi kami untuk mengetahui pilihan komprehensif terbaik yang tersedia bagi Anda di Gleneagles Hospital Singapura.

    Buat Perjanjian

  • Spesialis Kami

    Ada 31 SpesialisLihat Semua

    Ada 31 SpesialisLihat Semua