• Gleneagles Singapore

Kanker Kelenjar Getah Bening (kelenjar getah bening)

  • Apakah Itu Kanker Kelenjar Getah Bening?

    Kanker kelenjar getah bening atau limfoma adalah jenis kanker darah yang menyerang sistem limfatik. Sistem limfatik merupakan sistem jaringan dan organ yang berfungsi membantu tubuh mengeluarkan racun, limbah, dan material lain yang tidak diinginkan. Sistem limfatik utamanya mencakup kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, dan kelenjar timus.

    Pada dasarnya, kanker limfoma berawal dari bermutasinya sel limfosit. Limfosit adalah jenis sel darah putih yang berperan besar dalam melawan infeksi. Limfosit tersebar dalam sistem jaringan limfatik. Kanker limfoma terjadi ketika limfosit mengalami perubahan abnormal yang berbahaya serta tumbuh secara tidak terkendali. Limfosit yang tidak normal ini berkembang dengan jumlah melebihi sel-sel yang sehat, sehingga memengaruhi fungsi normal dari sistem kekebalan tubuh.

    Limfosit abnormal menumpuk di kelenjar getah bening mana pun dalam tubuh, sehingga kanker ini identik dengan nama kanker kelenjar getah bening. Sel-sel kanker ini dapat berkembang dan menyebar ke seluruh sistem limfatik atau bahkan organ lain. Kondisi kanker limfoma yang memiliki kemampuan menyebar dan bersifat ganas itu disebut limfoma maligna.

    Berikut adalah subjenis kanker darah secara umum yang dibedakan berdasarkan karakteristik limfosit yang terjangkit kanker:

    • Limfoma Hodgkin – umum dijumpai pada kalangan usia dewasa muda 15 – 40 tahun dan kelompok usia dewasa di atas 50 tahun. Limfoma Hodgkin relatif lebih jarang ditemui, dengan proporsi kasus kurang dari 7% dari total kanker limfoma di Indonesia. Pada tahun 2020, terdapat lebih dari 1.100 kasus limfoma Hodgkin baru di Indonesia.
    • Limfoma non-Hodgkin – merupakan jenis yang paling umum ditemui dan biasa terjadi pada kalangan usia lebih tua. Limfoma non-Hodgkin juga relatif lebih berbahaya dibandingkan limfoma Hodgkin. Di Indonesia, limfoma non-Hodgkin menduduki posisi 7 sebagai kasus kanker yang paling sering ditemui, dengan angka mencapai lebih dari 16.000 kasus baru pada tahun 2020.

    infografik kanker kelenjar getah bening limfoma

  • Penyebab kanker kelenjar getah bening pada dasarnya adalah mutasi DNA pada sel limfosit. Namun, pemicu mutasi sel tersebut belum diketahui secara pasti. Adapun beberapa faktor yang meningkatkan risiko terjangkit limfoma adalah:

    • Usia – beberapa jenis limfoma lebih umum dialami kalangan usia dewasa muda 15 – 40 tahun untuk limfoma Hodgkin, sedangkan usia tua di atas 60 tahun berisiko lebih tinggi untuk terkena limfoma non-Hodgkin
    • Berjenis kelamin pria
    • Gangguan sistem kekebalan (virus seperti HIV/AIDS, penyakit autoimun, lupus, dan lainnya)
    • Infeksi (misalnya, infeksi virus Epstein-Barr dan bakteri H. pylori)
    • Kelainan genetik (misalnya, sindrom Wiskott-Aldrich)
    • Pernah menjalani terapi radiasi atau radioterapi
    • Obesitas, yang secara umum meningkatkan risiko kanker
    • Riwayat limfoma dalam keluarga atau faktor keturunan

    Tidak ada cara khusus untuk mencegah kanker kelenjar getah bening, tetapi ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko kanker kelenjar getah bening:

    • Melindungi diri dari penyakit infeksi (misalnya: virus HIV, virus HTLV-1, hepatitis C, bakteri H. pylori, dan lainnya), salah satunya dengan berperilaku seksual yang sehat dan aman
    • Menjaga sistem kekebalan tubuh dengan mengadopsi pola hidup yang sehat
    • Menggunakan alat pelindung diri untuk menghindari paparan zat kimia atau radiasi
  • Terkadang gejala limfoma tidak tampak jelas. Meskipun demikian, gejala kanker kelenjar getah bening yang utama adalah adanya pembesaran atau pembengkakan kelenjar getah bening (umumnya pada ketiak, leher, atau selangkangan). Pembengkakan ini kadang tanpa disertai rasa sakit dan dapat berawal dari satu kelenjar dan menyebar ke kelenjar getah bening atau organ lainnya.

    Selain itu, beberapa gejala limfoma yang umumnya muncul mencakup:

    • Kelelahan kronis
    • Demam
    • Berkeringat berlebihan, termasuk pada malam hari
    • Sesak napas
    • Batuk
    • Penurunan berat badan tanpa sebab yang diketahui
    • Iritasi atau gatal pada kulit
    • Dalam sebagian kasus di mana penyebaran sudah mencapai sumsum tulang, juga dimungkinkan gejala seperti anemia, memar, dan infeksi

    Pasien disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter dan melakukan deteksi dini jika mengalami gejala kanker kelenjar getah bening secara berkelanjutan. Dokter dapat menyarankan tes dan prosedur berikut untuk mendiagnosis kanker limfoma:

    • Pemeriksaan fisik – untuk memeriksa pembengkakan nodus limfa atau kelenjar getah bening
    • Tes darah – untuk mengetahui ketidaknormalan darah yang mengarah pada kemungkinan kanker
    • Tes pencitraan – dapat meliputi foto rontgen, CT-scan, dan PET-scan
    • Biopsi kelenjar getah bening – untuk mengambil sampel kelenjar getah bening guna mengetahui keberadaan sel abnormal (sel Reed-Sternberg) pada kelenjar getah bening
    • Biopsi sumsum tulang – untuk mengambil sampel sumsum tulang guna mencari keberadaan sel limfoma Hodgkin
  • Penanganan kanker kelenjar getah bening ditentukan hasil evaluasi dokter. Dokter akan mempertimbangkan banyak faktor termasuk jenis limfoma, tingkat keparahan, dan kondisi pasien. Pilihan penanganan yang mungkin diberikan di antaranya:

    • Kemoterapi, dengan obat-obatan kimia untuk membunuh sel kanker atau menghentikan perkembangannya
    • Terapi radiasi atau radioterapi, dengan radiasi sinar khusus untuk menghancurkan sel kanker. Umum digunakan pada stadium awal
    • Pengobatan terapi imun, dengan mendorong sistem kekebalan tubuh sendiri untuk menyerang sel kanker
    • Terapi target, dengan menggunakan obat yang secara spesifik menyerang area yang ditargetkan
    • Terapi sel CAR-T, yang memodifikasi sel yang terjangkit agar bisa melawan kankernya sendiri
    • Transplantasi sumsum tulang, dilakukan ketika limfoma berada di sumsum tulang. Transplantasi akan mengganti sumsum tulang yang rusak dengan yang sehat agar bisa memproduksi sel darah secara normal

    Dokter dapat menyarankan pasien untuk melaksanakan satu prosedur tunggal atau memadukan beberapa prosedur demi mendapatkan hasil yang efektif. Sebagai contoh, sebagian kasus limfoma Hodgkin dapat ditangani hanya dengan prosedur kemoterapi atau terapi radiasi saja, khususnya dalam tahap perkembangan yang masih dini. Sedangkan penanganan limfoma non-Hodgkin biasanya memerlukan setidaknya kombinasi kemoterapi dan terapi radiasi.

    Selain prosedur penanganan yang disebutkan di atas, dokter juga mungkin menyarankan pasien untuk mengamati kondisi kesehatannya secara aktif terutama dalam kasus limfoma yang berkembang sangat lambat dan tidak menimbulkan gejala. Dalam kasus seperti itu, dokter mungkin menganjurkan untuk menunda penanganan sambil memantau perkembangan pasien secara berkala.

    Menjalani prosedur serta mendapatkan diagnosis yang tepat dan sedini mungkin adalah langkah kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mengurangi risiko kesehatan dan finansial. Pemilihan perawatan yang tepat sangat bergantung pada kondisi pasien serta hasil evaluasi dokter demi memaksimalkan dampak positif penanganan dan mengantisipasi efek samping (jika ada).

    Silakan buat janji temu dan berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi kami untuk mengetahui pilihan komprehensif terbaik yang tersedia bagi Anda di Gleneagles Hospital Singapura.

    Buat Perjanjian

  • Spesialis Kami

    Ada 6 SpesialisLihat Semua

    Ada 6 SpesialisLihat Semua