• Gleneagles Singapore

Kanker Nasofaring (Hidung)

  • Apakah Itu Kanker Nasofaring?

    Kanker hidung atau kanker nasofaring adalah jenis kanker pada jaringan pada lapisan luar nasofaring. Nasofaring adalah bagian dari tenggorokan yang terletak di belakang hidung dan di balik langit-langit rongga mulut. Dalam bahasa Inggris, kanker nasofaring disebut “nasopharyngeal carcinoma” yang sering disingkat sebagai “NPC”. Dalam klasifikasi jenis kanker, kanker nasofaring dikategorikan sebagai bagian dari kanker kepala dan leher.

    Kanker nasofaring pada dasarnya diakibatkan pertumbuhan abnormal dalam nasofaring, di mana sel-sel bermutasi dan membelah secara tidak terkendali sehingga menghasilkan jaringan ekstra atau tumor. Tidak setiap tumor adalah kanker. Tumor nasofaring dapat bersifat jinak (nonkanker) atau ganas (kanker).

    Di Indonesia, penderita kasus baru kanker nasofaring cenderung meningkat. Pada tahun 2020, diperkirakan angka kasus baru kanker nasofaring nyaris menyentuh angka 20.000 setiap tahunnya. Kanker nasofaring menduduki peringkat ke-5 sebagai jenis kanker dengan jumlah kasus baru paling banyak di Indonesia. Khusus bagi pria, kanker ini menduduki nomor 4, di bawah kanker paru-paru, kolorektal, dan hati.

    ilustrasi anatomi dan karsinoma pada nasofaring

  • Penyebab kanker nasofaring adalah DNA dari sel-sel dalam nasofaring yang bermutasi. Namun, mengapa mutasi itu terjadi belum diketahui secara pasti. Kendati demikian, ada beberapa faktor risiko dan dugaan penyebab kanker nasofaring, seperti berikut ini:

    • Infeksi Epstein-Barr Virus (EBV) adalah infeksi virus yang umum dan biasanya menyebabkan gejala ringan, seperti demam, dan tenggorokan perih. Infeksi EBV dikaitkan dengan perkembangan kanker nasofaring karena virus itu telah ditemukan di hampir semua sel kanker nasofaring. Namun demikian, infeksi EBV itu sendiri tidak cukup untuk menyebabkan kanker nasofaring.
    • Pria berusia antara 20 hingga 50 tahun memiliki risiko lebih tinggi.
    • Kanker nasofaring juga lebih sering dijumpai pada orang keturunan Tionghoa (khususnya orang Kanton).
    • Kanker hidung lebih sering ditemui di Asia, khususnya Asia Tenggara, dibandingkan Amerika.
    • Mengonsumsi makanan yang diawetkan dengan garam juga dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring. Terkait hal ini, kanker hidung cukup umum ditemui di daerah Asia, Afrika Utara, dan wilayah kutub. Semua area ini memiliki ciri pola makan yang kadar garamnya tinggi dengan ikan dan daging yang difermentasi.
    • Kebiasaan merokok dan mengonsumsi alkohol.
    • Riwayat kanker nasofaring dalam keluarga.
  • Pada tahap awal kanker, ciri-ciri kanker nasofaring kerap kali tidak terlihat jelas. Namun, secara umum gejala kanker nasofaring dapat mencakup:

    • Hidung tersumbat dan terasa penuh
    • Hidung berdarah yang terjadi berulang kali
    • Air liur atau dahak berdarah dari hidung dan tenggorokan
    • Gangguan penglihatan seperti buram
    • Gangguan pendengaran, sakit telinga, keluar cairan dari telinga, kehilangan pendengaran atau tinnitus (telinga berdenging) yang biasanya hanya memengaruhi satu telinga
    • Sulit menelan, berbicara (termasuk suara serak), atau bernapas
    • Tenggorokan perih yang berkepanjangan
    • Benjolan di leher atau pada hidung yang disebabkan pembengkakan kelenjar getah bening
    • Sakit kepala yang tidak kunjung membaik
    • Nyeri pada wajah atau wajah mati rasa
    • Kelelahan
    • Kehilangan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya

    Gejala kanker nasofaring sering kali tidak dirasakan sejak awal. Ketika pasien mulai mengalami gejala kanker nasofaring di atas yang berkepanjangan atau merasa ada perubahan dalam tubuh, seperti misalnya gangguan pernapasan yang tidak biasa, maka sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter.

    Dokter akan melakukan prosedur diagnostik untuk memeriksa kondisi pasien. Ini dilakukan untuk memastikan keberadaan kanker hidung sekaligus tingkat keparahannya. Beberapa prosedur diagnostik yang mungkin dilakukan, di antaranya:

    • Pemeriksaan fisik, khususnya untuk mencari benjolan di sekitar leher
    • Nasofaringoskopi atau nasoendoskopi, prosedur untuk melihat bagian dalam nasofaring dengan menggunakan metode endoskopi atau alat bernama nasofaringoskop yang dilengkapi kamera
    • Biopsi, dengan mengambil sampel dari benjolan di nasofaring untuk diperiksa di laboratorium
    • Pemindaian atau pencitraan, yang dapat dilakukan dengan prosedur foto rontgen, CT-scan, PET-scan, atau MRI
  • Prosedur diagnostik membantu dokter untuk menentukan tingkat perkembangan atau stadium kanker nasofaring. Umumnya, stadium kanker nasofaring digolongkan menjadi 4:

    • Stadium 0 atau kanker in situ. Kondisi terdeteksinya sel abnormal yang berpotensi menjadi kanker dan dapat menyebar ke jaringan sekitar.
    • Stadium 1. Sel abnormal telah menjadi kanker atau menyebar ke jaringan sekitarnya seperti orofaring atau bagian tenggorokan di balik rongga mulut.
    • Stadium 2. Kanker sudah menyebar ke satu kelenjar getah bening atau lebih, yang terletak di leher atau di balik faring (saluran di antara trakea dan hidung).
    • Stadium 3. Kanker telah merambat ke tulang dan organ sinus terdekat.
    • Stadium 4. Kanker sudah menyebar ke jaringan atau organ tubuh yang terletak cukup jauh dari nasofaring, seperti tulang selangka atau paru-paru.

    Terdapat beragam pilihan penanganan kanker nasofaring, yang banyak bergantung pada kondisi pasien dan stadium kanker. Dokter spesialis onkologi akan memberikan pilihan dan saran terbaik terkait terapi penanganan kanker nasofaring. Beberapa terapi penanganan kanker nasofaring di antaranya:

    • Kemoterapi, yang menggunakan satu atau kombinasi obat-obatan kimia yang diedarkan dalam aliran darah dan secara cepat membunuh sel-sel kanker yang tumbuh, termasuk sel yang sehat, sehingga mungkin menimbulkan efek samping – meskipun pada kebanyakan kasus efek samping tersebut akan hilang dengan sendirinya. Metode ini juga meredakan gejala kanker nasofaring.
    • Diseksi leher, untuk mengangkat nodus limfa kanker jika kanker nasofaring sudah menyebar ke kelenjar getah bening di sekitarnya. Biasanya dilakukan setelah melakukan reseksi tumor primer.
    • Terapi radiasi atau radioterapi, adalah bentuk perawatan kanker hidung yang paling umum digunakan dengan memanfaatkan sinar radiasi berenergi tinggi (biasanya sinar-X, tetapi mungkin juga dengan energi tinggi lainnya). Ada beberapa macam terapi radiasi, misalnya:
      • Brakiterapi, dengan menggunakan tali logam tipis yang mengandung bahan radioaktif untuk mengantarkan radiasi ke sel kanker.
      • Intensity Modulated Radiotherapy (IMRT), metode radiasi yang memungkinkan pengantaran berkas radiasi secara tepat dengan panduan komputer untuk membunuh sel-sel kanker, sekaligus meminimalkan dampak terhadap jaringan sehat di sekitarnya.
      • Radioterapi atau terapi radiasi eksternal, dapat digunakan untuk membunuh sel-sel kanker dan meredakan gejala kanker nasofaring.
    • Pembedahan atau operasi, yang jarang dilakukan karena lokasi kanker terlalu dekat dengan pembuluh darah dan saraf. Dalam beberapa kasus, prosedur ini dilakukan untuk mengangkat tumor dalam kasus kanker hidung ringan yang tidak berhasil dengan terapi radiasi.
    • Imunoterapi, yang dilaksanakan dengan pemberian obat untuk mendukung sistem imun yang akan memerangi sel kanker.

    Menjalani prosedur serta mendapatkan diagnosis yang tepat dan sedini mungkin adalah langkah kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mengurangi risiko kesehatan dan finansial. Pemilihan perawatan yang tepat sangat bergantung pada kondisi pasien serta hasil evaluasi dokter demi memaksimalkan dampak positif penanganan dan mengantisipasi efek samping (jika ada).

    Silakan buat janji temu dan berkonsultasi dengan dokter spesialis onkologi kami untuk mengetahui pilihan komprehensif terbaik yang tersedia bagi Anda di Gleneagles Hospital Singapura.

    Buat Perjanjian

  • Spesialis Kami

    Ada 31 SpesialisLihat Semua

    Ada 31 SpesialisLihat Semua