Aneurisma Otak - Gejala & Penyebab

Apa itu aneurisma otak?

Aneurisma otak atau aneurisma serebral merupakan penyakit yang ditandai dengan munculnya tonjolan pada arteri otak karena dindingnya melemah. Tonjolan atau “gelembung” ini dapat terisi darah, lalu pecah sehingga menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa, seperti stroke hemoragik (perdarahan otak).

Meski aneurisma otak dapat diderita siapa saja, aneurisma yang pecah lebih mungkin terjadi pada wanita dan orang berusia di atas 40 tahun.

Apa saja gejala aneurisma otak?

Gejala aneurisma otak bisa saja baru terdeteksi setelah aneurisma atau tonjolan pecah. Sementara itu, meskipun tidak pecah, aneurisma yang membesar atau menekan jaringan dan saraf di otak dapat menyebabkan:

  • Gangguan penglihatan yang tiba-tiba (misalnya daya penglihatan menurun, kabur, atau berbayang)
  • Nyeri di atas dan di belakang salah satu mata
  • Pupil membesar
  • Kelopak mata turun
  • Wajah lumpuh sebelah atau ototnya melemah sebelah
  • Kesulitan bicara

Tanda awal aneurisma yang pecah adalah sakit kepala hebat yang tiba-tiba, dengan sensasi “kepala seperti mau pecah” menurut kebanyakan pasien. Gejala lain yang perlu diwaspadai, antara lain:

  • Mual dan muntah
  • Sensitif terhadap cahaya
  • Nyeri leher
  • Kejang
  • Pingsan atau hilang kesadaran sementara
  • Linglung

Segera minta pertolongan medis jika merasakan gejala di atas atau mengalami sakit kepala terus-menerus sampai berhari-hari atau berminggu-minggu. Gejala tersebut bisa saja merupakan tanda aneurisma otak yang bocor sehingga mengeluarkan darah dan akan pecah.

Apa penyebab aneurisma otak?

Aneurisma otak umumnya terjadi pada dinding arteri yang lemah atau abnormal, tetapi penyebab pastinya belum diketahui.

Penyakit ini dapat terjadi akibat menurunnya fungsi tubuh secara alami atau degeneratif, yang utamanya disebabkan oleh pertambahan usia dan tekanan darah tinggi. Aneurisma otak juga sering dikaitkan dengan penyakit aterosklerosis, yang ditandai dengan pengerasan arteri akibat penumpukan lemak pada dinding arteri.

Aneurisma otak biasanya terjadi pada arteri utama di bawah otak dan di dasar otak atau di percabangan arteri, yang dindingnya tidak sekuat bagian yang lain.

Apakah saja faktor risiko aneurisma otak?

Kelainan genetik dan gangguan sistem peredaran darah merupakan faktor risiko terbesar aneurisma otak.

Faktor-faktor yang diketahui meningkatkan risiko aneurisma otak antara lain:

  • Riwayat keluarga. Jika ada kerabat dekat, seperti orang tua atau saudara kandung, yang menderita aneurisma otak, Anda juga menjadi lebih berisiko menderitanya.
  • Kelainan genetik. Penyakit jaringan ikat, seperti sindrom Ehlers-Danlos dan sindrom Marfan, dapat melemahkan dinding pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko menderita aneurisma.
  • Kelainan bawaan. Kelainan keturunan sejak lahir, seperti penyakit ginjal polikistik, malformasi arteri vena, dan penyempitan aorta, juga dapat melemahkan dinding pembuluh darah dan meningkatkan risiko aneurisma otak.
  • Hipertensi. Jika tidak terkontrol, tekanan darah tinggi membuat dinding arteri makin tertekan sehingga melemahkannya di banyak bagian.
  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Konsumsi alkohol dan obat-obatan yang berlebihan, terutama kokain, meningkatkan tekanan darah dan memicu peradangan arteri.
  • Merokok. Faktor risiko ini dapat memicu aneurisma otak, dan cara menghindarinya adalah dengan menjalani gaya hidup yang lebih sehat.
  • Cedera kepala. Pada beberapa kasus, cedera kepala yang parah dapat merusak pembuluh darah di otak sehingga memicu aneurisma.
  • Infeksi. Meski jarang, infeksi tertentu dapat menyebabkan kerusakan dinding arteri dan meningkatkan risiko terjadinya aneurisma mikotik atau aneurisma akibat infeksi bakteri.
  • Bertambahnya usia. Aneurisma otak lebih umum diderita orang berusia di atas 40 tahun.
  • Jenis kelamin. Wanita berisiko lebih besar menderita aneurisma otak dibandingkan pria.

Apa saja komplikasi dan penyakit terkait aneurisma otak?

Aneurisma otak yang tidak pecah meningkatkan tekanan dalam tengkorak. Saat aneurisma pecah, aliran darah menjadi tidak normal dan darah meresap ke jaringan otak di sekitarnya sehingga pasokan oksigen dan darah ke otak terganggu. Gangguan ini dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti stroke hemoragik, kerusakan otak permanen, koma, atau bahkan kematian.

Komplikasi lain yang disebabkannya, antara lain:

  • Perdarahan ulang. Perdarahan dapat kembali terjadi pada aneurisma yang sudah pecah sehingga menambah kerusakan sel otak.
  • Vasospasme. Vasospasme, yang ditandai dengan penyempitan pembuluh darah, dapat menyebabkan pasokan oksigen ke otak berkurang sehingga memicu stroke.
  • Hidrosefalus. Aneurisma yang pecah dapat menyebabkan penumpukan berlebih cairan serebrospinal di sekitar otak dan sumsum tulang belakang sehingga berpotensi menyebabkan kerusakan otak.
  • Hiponatremia. Perdarahan di dalam otak akan mengganggu kadar natrium dalam darah sehingga menyebabkan pembengkakan sel otak dan kerusakan permanen.
  • Kejang. Perdarahan akibat aneurisma juga dapat menyebabkan gangguan aktivitas listrik otak dan kejang otot yang tidak terkontrol.

Bagaimana cara mencegah aneurisma otak?

Belum ada cara yang terbukti efektif dalam mencegah aneurisma otak. Namun, risikonya dapat dikurangi dengan gaya hidup dan pola makan yang lebih sehat, antara lain dengan:

  • Berhenti merokok
  • Tidak menyalahgunakan obat-obatan
  • Segera menangani tekanan darah tinggi
  • Membatasi konsumsi alkohol dan kafein
  • Makan makanan sehat dan mengurangi konsumsi garam
  • Berolahraga secara teratur
  • Menjaga berat badan
Halaman ini telah ditinjau oleh peninjau konten medis kami.

Perlu bantuan?


Untuk mengajukan pertanyaan, hubungi
+65 6575 7575

Untuk membuat janji temu, hubungi kami via WhatsApp di nomor
+65 8111 9777