• Gleneagles Singapore

Penyakit Refluks Gastroesofagus (GERD)

  • Apakah Itu Penyakit Refluks Gastroesofagus (GERD)?

    Infografik GERD, gejala, dan penyebab

    Penyakit refluks gastroesofagus atau gastroesophageal reflux disease (GERD) adalah penyakit gangguan pencernaan kronis dan merupakan salah satu penyakit yang cukup umum dijumpai pada setiap orang.

    GERD terjadi apabila asam lambung dari perut mengalir kembali (refluks) ke dalam esofagus (saluran makanan atau kerongkongan). Pada situasi yang normal, makanan masuk dari mulut kemudian diteruskan ke esofagus bawah. Untuk menghindari naiknya kembali makanan ataupun asam lambung ke esofagus, ada otot yang bernama sfingter esofagus yang menutup pintu masuk menuju lambung. Kemudian makanan akan ditampung sekitar 3 – 4 jam untuk selanjutnya dicerna.

    Dalam kasus GERD, bagian sfingter esofagus mengalami gangguan atau melemah, sehingga membuat proses relaksasi menjadi terlalu kendur. Ini dapat menyebabkan naiknya makanan yang ditampung beserta cairan asam lambung ke esofagus. Kondisi ini disebut dengan “refluks”. Refluks ini membuat iritasi dan dapat merusak lapisan esofagus. Refluks juga dapat mencapai pita suara, atau bahkan mengalir ke dalam paru-paru. Ketika makanan dan asam lambung naik mencapai kerongkongan, umumnya penderita akan merasakan sensasi panas seperti terbakar pada dadanya (heartburn).

    GERD adalah penyakit yang cukup umum ditemui, termasuk di Indonesia. Sebagian masyarakat Indonesia juga menyebut GERD sebagai “asam lambung naik”. Sekitar 1 dari 4 orang Indonesia pernah mengalami kondisi medis ini.

  • Pada dasarnya, penyebab GERD adalah gangguan atau melemahnya katup sfingter. Inilah yang menyebabkan terjadinya refluks atau asam perut atau asam lambung mengalir kembali ke dalam esofagus. Selain itu, ada berbagai faktor risiko yang dapat berkontribusi menjadi penyebab GERD, seperti:

    • Penyakit tertentu, misalnya sindrom Zollinger-Ellison dan skleroderma (gangguan jaringan ikat)
    • Peningkatan produksi gastrin, suatu hormon yang mengatur pelepasan asam perut
    • Obesitas atau kelebihan berat badan
    • Kehamilan
    • Penggunaan obat tertentu seperti aspirin
    • Pertambahan usia
    • Berbaring atau tidur setelah makan
    • Tidak memberi jeda antara makan dan tidur
    • Merokok dan mengonsumsi alkohol serta kopi
    • Terlalu sering mengonsumsi makanan yang dapat memicu asam lambung, seperti gorengan, makanan asam, dan makanan pedas
    • Makan terlalu banyak dalam sekaligus
    • Makan porsi besar atau makan terlambat pada malam hari
  • Gejala penyakit refluks gastroesofagus yang paling umum adalah rasa seakan dada terbakar (heartburn) yang menyebar dari perut ke tenggorokan. Ciri-ciri GERD lainnya yang mungkin timbul mencakup:

    • Rasa pahit atau asam di mulut (regurgitasi asam)
    • Ada cairan atau makanan yang naik dari dalam perut ke mulut
    • Kesulitan menelan, merasa seperti ada benjolan atau makanan yang tersangkut
    • Tenggorokan perih yang terus berlanjut
    • Rasa nyeri dan tidak nyaman di dada atau ulu hati
    • Suara parau atau serak
    • Batuk yang tidak kunjung sembuh
    • Bau mulut
    • Masalah pernapasan, seperti batuk kronis dan asma (yang sering kambuh saat terserang GERD)
    • Kerusakan pada gigi karena terpapar asam lambung
    • Perut kembung
    • Bersendawa

    Ciri-ciri GERD umumnya bersifat ringan. Namun, jika pasien mengalami gejala GERD yang tak kunjung hilang, maka pasien disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Khususnya ketika gejala GERD yang ditunjukkan semakin parah, dokter dapat menyarankan pemeriksaan medis lebih lanjut. Beberapa prosedur diagnostik yang dapat dilakukan, antara lain:

    • Endoskopi bagian atas

      Prosedur dengan menggunakan sebuah tabung lentur bernama endoskop, yang dilengkapi dengan kamera. Endoskop dimasukkan ke dalam kerongkongan untuk mendapatkan visualisasi yang lebih jelas dari bagian lambung dan esofagus pasien. Ketika proses endoskopi berlangsung, dokter juga dapat mengombinasikan dengan prosedur biopsi yang merupakan pengambilan sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium.

    • Tes pH (keasaman) esofagus

      Pemeriksaan ini menggunakan monitor yang dimasukkan ke dalam kerongkongan dengan menggunakan tabung fleksibel atau kateter melalui hidung. Tujuannya adalah untuk mengetahui tingkat keasaman dan seberapa banyak asam lambung yang kembali naik ke kerongkongan.

    • Manometri esofagus

      Prosedur ini hampir mirip dengan endoskopi, yang dilakukan dengan memasukkan tabung yang lentur ke kerongkongan. Akan tetapi, tujuan metode ini untuk mengetahui seberapa baik fungsi esofagus, termasuk kondisi otot-ototnya dalam menggerakkan makanan menuju ke lambung.

    • Tes pencitraan atau pemindaian

      Prosedur ini menggunakan foto rontgen untuk melihat dengan jelas kondisi keseluruhan mulai dari esofagus, lambung, hingga usus bagian atas. Biasanya cairan barium digunakan dalam prosedur ini untuk memperjelas hasil dari pencitraan saluran pencernaan.

  • Terdapat beberapa pilihan penanganan untuk penyakit GERD. Pilihan penanganan bergantung pada tingkat keparahan kondisinya dan kondisi pasien dan dokter dapat memberikan saran pilihan yang terbaik bagi pasien. Sebagai langkah pertama, dokter dapat menganjurkan pasien untuk memodifikasi gaya hidup dan mengonsumsi obat-obatan bebas. Jika tidak ada perkembangan, dokter mungkin menyarankan obat-obatan dengan resep atau pembedahan. Berikut adalah detail dari beberapa penanganan yang mungkin dilakukan.

    Perubahan gaya hidup untuk mengatasi gejala GERD ringan, yang mencakup:

    • Menghindari makan terlambat
    • Menghindari makanan yang merangsang refluks asam lambung
    • Makan makanan dengan porsi yang lebih kecil
    • Menjaga berat badan yang sehat
    • Berhenti merokok
    • Meninggikan bagian kepala pada saat tidur
    • Mengenakan pakaian yang nyaman untuk menghindari tekanan pada perut

    Obat-obatan bebas, misalnya:

    • Antasida untuk menetralkan asam lambung.
    • Obat-obatan untuk mengurangi produksi asam lambung termasuk cimetidine, famotidine, dan nizatidine.
    • Obat-obatan untuk menghalangi produksi asam lambung dan memulihkan esofagus, seperti lansoprazole dan omeprazole.

    Obat-obatan dengan resep dokter, seperti:

    • Obat resep untuk menghalangi reseptor H-2, seperti famotidine dan nizatidine.
    • Obat resep penghambat pompa proton, termasuk esomeprazole, lansoprazole, omeprazole, pantoprazole, rabeprazole, dan dexlansoprazole.
    • Obat-obatan untuk memperkuat otot sfingter seperti baclofen.

    Tindakan operasi

    • Fundoplikasi, dengan mengikat bagian bawah katup sfingter esofagus. Tujuannya adalah mencegah naiknya kembali asam lambung ke kerongkongan. Operasi menggunakan alat laparoskop, yang ujungnya dilengkapi kamera kecil untuk mempermudah dokter melihat kondisi saluran pencernaan pasien.
    • Perangkat LINX, yaitu prosedur pemasangan magnet pada daerah batas kerongkongan dan lambung. Ini bertujuan untuk memperkuat katup sfingter esofagus agar tidak kendur ketika menutup, tetapi tetap dapat terbuka untuk membiarkan makanan masuk.
    • Fundoplikasi tanpa sayatan transoral atau transoral incisionless fundoplication (TIF), yang merupakan teknik fundoplikasi dengan menggunakan pengencang dari semacam plastik. Prosedur ini dilakukan dengan alat endoskop dan tidak memerlukan sayatan.

    Menjalani prosedur serta mendapatkan diagnosis yang tepat dan sedini mungkin adalah langkah kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mengurangi risiko kesehatan dan finansial. Pemilihan perawatan yang tepat sangat bergantung pada kondisi pasien serta hasil evaluasi dokter demi memaksimalkan dampak positif penanganan dan mengantisipasi efek samping (jika ada).

    Silakan buat janji temu dan berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi kami untuk mengetahui pilihan komprehensif terbaik yang tersedia bagi Anda di Gleneagles Hospital Singapura.

    Mencari Keterangan Temukan Dokter

  • Penyakit refluks gastroesofagus (GERD) dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi penyakit lain, terutama untuk kasus GERD yang cukup parah. Berikut merupakan komplikasi terkait GERD yang sering ditemukan:

    • Esofagus Barrett, yang dicirikan oleh GERD yang berlangsung lama dan meningkatkan risiko kanker esofagus
    • Peradangan pita suara
    • Kerusakan paru-paru, termasuk pembentukan jaringan parut (fibrosis) paru serta kerusakan pada bronkus dan saluran pernapasan (bronkiektasis)
    • Sakit maag dalam esofagus disebabkan oleh iritasi oleh asam lambung
    • Striktur (penyumbatan) esofagus yang disebabkan oleh perkembangan jaringan parut akibat iritasi atau sakit maag yang berulang
  • Spesialis Kami

    Ada 22 SpesialisLihat Semua

    Ada 22 SpesialisLihat Semua