• Gleneagles Singapore

Hepatitis (A, B, C)

  • Apakah Itu Hepatitis (A, B, C)?

    Hepatitis

    Hepatitis merupakan kondisi peradangan hati atau liver. Hepatitis dapat disebabkan oleh infeksi virus, bahan kimia, penyalahgunaan obat, pengobatan tertentu, dan gangguan kekebalan tubuh. Ada berbagai jenis hepatitis viral, termasuk yang paling umum dijumpai adalah hepatitis A, hepatitis B, dan hepatitis C. Masing-masing jenis hepatitis viral tersebut disebabkan oleh virus sesuai penamaannya. Setiap jenis hepatitis viral disebarkan melalui metode yang berbeda, dan memerlukan terapi yang berbeda pula.

    Infeksi virus hepatitis A menyebabkan peradangan akut pada hati. Hepatitis A merupakan penyakit yang perkembangannya terbatas, dengan gejala yang bertahan selama beberapa minggu sebelum orang yang bersangkutan pulih sepenuhnya. Mereka yang sudah terserang infeksi hepatitis A akan memiliki kekebalan tubuh seumur hidupnya.

    Infeksi hepatitis B adalah infeksi hepatitis yang paling umum. Sebagian besar orang yang terinfeksi dapat pulih dari infeksi hepatitis B akut dan menjadi kebal terhadapnya. Namun demikian, sebagian orang lainnya dapat mengembangkan infeksi hepatitis B jangka panjang yang menyebabkan komplikasi serius, termasuk hepatitis kronis, sirosis hati (penyakit hati menahun), gagal hati, dan kanker hati. Hepatitis B merupakan penyakit yang mendapat perhatian khusus, baik secara nasional maupun global. Di Indonesia, hepatitis B adalah penyakit endemik dengan angka melebihi 1 juta kasus baru setiap tahunnya.

    Infeksi hepatitis C mengakibatkan pengembangan penyakit hati yang bersifat kronis di seluruh dunia. Virus hepatitis C tidak dapat hilang pada sebagian besar penderita. Sehingga sebagai konsekuensinya, virus hepatitis C terus menyebabkan kerusakan pada hati selama bertahun-tahun. Mirip dengan hepatitis B, hepatitis C dapat menyebabkan hepatitis kronis, sirosis, gagal hati, dan kanker hati.

  • Penyebab hepatitis dapat berupa beragam kondisi medis. Namun demikian, penyebab hepatitis yang paling utama adalah infeksi virus.

    Virus hepatitis A ditularkan melalui:

    • Kontak darah, penggunaan obat, dan kontak seksual (khususnya antara pria homoseksual) dengan orang yang terinfeksi
    • Mengonsumsi kerang dari air yang terkontaminasi dengan air pembuangan kotoran
    • Kontak langsung dengan makanan, minuman, atau benda yang terkontaminasi kotoran (feses) orang yang terinfeksi
    • Transmisi fekal-oral atau penularan fekal-oral, merupakan rute penularan penyakit ketika patogen dalam partikel feses berpindah ke mulut orang lain, yang biasanya terjadi di daerah kepadatan tinggi dengan sanitasi buruk

    Virus hepatitis B umumnya ditemukan dalam darah. Selain itu, virus hepatitis B juga dapat ditemukan dalam sekresi semen dan vagina. Hepatitis B dapat ditularkan melalui kemungkinan berikut:

    • Menggunakan suntikan yang sudah terkontaminasi di antara sesama pengguna narkoba
    • Aktivitas lain yang melibatkan darah terkontaminasi memasuki aliran darah orang lain
    • Hubungan seksual yang tidak aman dengan orang yang terinfeksi
    • Ibu hamil yang terinfeksi dapat menularkan infeksi kepada bayinya sewaktu melahirkan

    Virus hepatitis C terutama ditemukan dalam darah dan ditularkan apabila darah orang yang terinfeksi memasuki aliran darah seseorang yang rentan, seperti misalnya melalui penggunaan jarum yang terkontaminasi secara bersama-sama.

    Dengan mempelajari penyebab hepatitis dan penularan hepatitis di atas, maka berikut adalah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang terjangkit hepatitis:

    • Kurang menjaga kebersihan, misalnya tidak mencuci tangan sebelum makan
    • Mengonsumsi makanan yang terkontaminasi atau tidak dimasak hingga matang
    • Penggunaan jarum suntik bersama
    • Tinggal atau mengunjungi daerah yang rawan hepatitis
    • Melakukan aktivitas seks tidak aman
    • Sering menerima transfusi darah, terutama jika prosesnya tidak melalui prosedur yang ketat dan bersih
    • Memiliki penyakit infeksi akut dan kronis, autoimun, HIV, atau riwayat hepatitis dalam keluarga
    • Melakukan tindik atau tato dengan perlengkapan yang tidak steril dan di lingkungan yang tidak bersih
    • Pekerjaan atau aktivitas dengan eksposur terhadap darah manusia yang mungkin terkontaminasi

    Dengan mengidentifikasi faktor-faktor risiko dan penyebab hepatitis di atas, maka seseorang dapat menurunkan risiko atau melakukan langkah pencegahan terhadap hepatitis, seperti misalnya:

    • Mencuci tangan dengan air dan sabun, terutama setelah beraktivitas dan sebelum makan
    • Menghindari penggunaan barang-barang pribadi secara bersama, seperti sikat gigi, handuk, dan peralatan makan
    • Berperilaku seks yang aman, misalnya dengan menggunakan kondom dan tidak berganti pasangan
    • Mengadopsi pola hidup sehat, seperti berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, dan beristirahat secara cukup
    • Tidak mengonsumsi alkohol dan narkotika
    • Menghindari makanan yang belum dimasak hingga matang
    • Memastikan alat tindik atau tato yang digunakan steril
    • Melakukan vaksinasi hepatitis sesuai saran dan jadwal yang dianjurkan dokter
  • Sebagian pasien hepatitis bersifat asimtomatis, di mana pasien tidak menyadari gejala hepatitis apa pun. Namun demikian, gejala hepatitis umum dapat mencakup:

    • Sakit atau rasa tidak nyaman pada perut
    • Urine berwarna gelap
    • Selera makan menurun
    • Demam
    • Penyakit kuning (khususnya ditandai warna kekuningan pada kulit dan mata)
    • Lesu dan mengantuk
    • Mual dan pusing
    • Pembengkakan karena penimbunan cairan (edema)
    • Nyeri persendian
    • Warna feses pucat
    • Kulit gatal

    Gejala hepatitis A biasanya tidak muncul hingga beberapa minggu pascainfeksi, meskipun tidak semua pasien menunjukkan gejala hepatitis. Sedangkan gejala hepatitis B biasanya muncul sekitar 1-4 bulan setelah terinfeksi, meskipun dalam beberapa kasus gejala hepatitis B mulai dapat terlihat saat dua minggu pascainfeksi. Sebagian pasien, khususnya anak kecil, mungkin tidak mengalami gejala hepatitis B. Sementara untuk gejala hepatitis C, biasanya infeksi tidak menunjukkan ciri-ciri apa pun selama bertahun-tahun hingga virus merusak hati dan mulai menimbulkan gejala penyakit hati.

    Sebagai pilihan langkah antisipasi paling aman, pasien disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter ketika mengalami gejala hepatitis yang disebutkan di atas, khususnya ketika urine berwarna gelap dan menderita penyakit kuning. Ini dilakukan untuk mencegah kemungkinan perkembangan hepatitis menjadi lebih buruk serta menghindari komplikasi. Beberapa gejala hepatitis juga mungkin memerlukan perhatian khusus dari dokter.

    Dokter akan memeriksa kondisi pasien dan meninjau riwayat kesehatan pasien (termasuk riwayat kesehatan keluarga). Kemudian pemeriksaan fisik dilakukan, untuk mencari perubahan warna dan mendeteksi pembengkakan pada perut pasien. Beberapa tes lanjutan mungkin dilakukan, misalnya:

    • Tes fungsi hati, untuk memeriksa apakah hati bekerja dengan normal atau ada masalah tertentu
    • Tes antibodi, untuk memastikan keberadaan antibodi virus hepatitis tertentu serta menentukan sifat hepatitis akut atau kronis
    • Pemindaian atau pencitraan dengan menggunakan gelombang ultrasonik (USG) pada perut, untuk melihat kelainan pada organ hati dan kantung empedu
    • Biopsi hati, untuk mengambil sampel jaringan yang akan diteliti lebih lanjut
  • Hepatitis A

    Tidak ada terapi khusus untuk hepatitis A. Tubuh akan memerangi virus hepatitis A dengan sendirinya. Dalam kebanyakan kasus hepatitis A, hati akan sembuh dalam waktu 6 bulan tanpa ada kerusakan jangka panjang. Meskipun demikian, ada penanganan atau tindakan terapi yang membantu memperbaiki kondisi pasien atau mengelola gejala hepatitis A, seperti misalnya:

    • Menghindari alkohol
    • Banyak istirahat dan tidur cukup
    • Menjaga kebersihan pribadi untuk mencegah transmisi fekal-oral
    • Meningkatkan asupan cairan untuk menghindari dehidrasi, khususnya jika menderita muntah-muntah
    • Makan kudapan atau makanan kecil jika mengalami mual dan sulit makan satu porsi penuh, khususnya disarankan untuk mengonsumsi makanan berkalori tinggi (misalnya: memilih jus buah atau susu daripada air putih)
    • Minum obat yang diresepkan jika gejala memburuk

    Hepatitis B

    Penanganan atau terapi hepatitis B tergantung jenis dan gejala hepatitis B yang diderita. Pilihan penanganan yang ada mencakup:

    Penanganan preventif setelah terkena paparan

    Dokter dapat menyuntikkan antibodi dalam rentang waktu 12 jam setelah eksposur untuk mencegah hepatitis B.

    Penanganan infeksi hepatitis B akut

    Hepatitis B akut berarti hepatitis B yang bersifat jangka pendek dan dapat hilang dengan sendirinya. Dokter mungkin menyarankan pasien untuk beristirahat, mengonsumsi makanan bernutrisi, pemberian obat antiviral jika diperlukan, dan lainnya.

    Penanganan infeksi hepatitis B kronis

    Kebanyakan orang dengan hepatitis B kronis akan memerlukan penanganan seumur hidup. Ini dapat membantu mengurangi risiko penyakit hati dan mencegah infeksi ke lebih banyak orang. Penanganan hepatitis B kronis meliputi:

    • Pengobatan antiviral, seperti misalnya entecavir, tenofovir, lamivudine, adefovir, dan telbivudine yang dapat membantu memerangi virus dan menghentikan atau memperlambat perkembangan virus
    • Penyuntikkan interferon, zat yang berfungsi melawan infeksi. Biasanya digunakan pada orang muda yang menghindari penanganan jangka panjang atau wanita yang ingin hamil.
    • Transplantasi hati, dengan mengganti hati yang rusak dengan hati dari donor yang biasanya diambil dari orang yang sudah meninggal atau terkadang dari donor yang masih hidup dan memberikan sebagian organ hatinya
    • Pengobatan untuk meredakan gejala

    Hepatitis C

    Penanganan atau terapi hepatitis C ditujukan untuk memperlambat komplikasinya. Ini mencakup:

    • Pengobatan antiviral untuk menghentikan virus berkembang
    • Menghindari konsumsi alkohol karena dapat meningkatkan kerusakan liver
    • Melakukan tes skrining reguler untuk kanker hati bagi pembawa hepatitis C, khususnya mereka yang mengidap sirosis hati
    • Transplantasi hati, meskipun untuk kebanyakan kasus ini tidak menyembuhkan hepatitis C dan infeksi mungkin akan kembali menyerang sehingga harus dipadukan dengan penanganan preventif menggunakan obat-obatan antiviral
    • Vaksinasi, walaupun belum ada vaksin untuk hepatitis C tetapi dokter mungkin menyarankan vaksinasi hepatitis A dan B untuk menurunkan risiko komplikasi hepatitis C
  • Beberapa komplikasi dan penyakit terkait hepatitis, di antaranya:

    • Kematian dini
    • Kanker hati, pertumbuhan jaringan yang tidak normal dalam hati dan membentuk tumor
    • Sirosis hati , kondisi rusaknya organ hati akibat terbentuknya jaringan parut
    • Gagal hati, di mana sebagian besar organ hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik

    Menjalani prosedur serta mendapatkan diagnosis yang tepat dan sedini mungkin adalah langkah kunci dalam meningkatkan peluang kesembuhan sekaligus mengurangi risiko kesehatan dan finansial. Pemilihan perawatan yang tepat sangat bergantung pada kondisi pasien serta hasil evaluasi dokter demi memaksimalkan dampak positif penanganan dan mengantisipasi efek samping (jika ada).

    Silakan buat janji temu dan berkonsultasi dengan dokter spesialis gastroenterologi kami untuk mengetahui pilihan komprehensif terbaik yang tersedia bagi Anda di Gleneagles Hospital Singapura.

    Buat Perjanjian

  • Spesialis Kami

    Ada 25 SpesialisLihat Semua

    Ada 25 SpesialisLihat Semua