3.AGU.2018 4 MNT DIBACA | 4 MNT DIBACA

Apa yang terjadi ketika hati berhenti berfungsi dengan benar? Apa itu perlemakan hati, dan bagaimana pengaruhnya terhadap kesehatan Anda secara keseluruhan?

Berbeda dengan perut, usus, jantung, atau paru-paru, tidak banyak orang yang tahu apa sebenarnya fungsi hati. Apakah Anda mengetahuinya?

Cara termudah untuk menggambarkan hati Anda adalah seperti pabrik. Ia mengontrol segala sesuatu mulai dari produksi dan pemrosesan hingga penyimpanan dan eliminasi, menangani lebih dari 500 tugas penting dan memulai beberapa ribu reaksi kimia setiap hari. Salah satu fungsi utamanya adalah mengubah nutrisi dari makanan kita menjadi energi, menghasilkan zat yang dibutuhkan tubuh kita seperti protein dan antibodi. Seolah belum cukup sibuk, hati juga menyimpan zat-zat ini sampai tubuh Anda siap untuk menggunakannya.

Dr Lui Hock Foong, ahli gastroenterologi di Rumah Sakit Gleneagles, memecah mitos paling mengakar tentang kondisi ini dan berbagi fakta yang benar-benar perlu Anda ketahui.

Jika Anda mengkhawatirkan hati Anda, jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter spesialis.

Mitos 1: Perlemakan hati tidak perlu dikhawatirkan

Mitos bahwa perlemakan hati tidak serius
Perlemakan hati, seperti namanya, mengacu pada penumpukan lemak di hati (lebih dari 5% dari total ukuran organ).

Banyak orang dengan perlemakan hati bahkan tidak tahu mereka memiliki kondisi tersebut. Terkadang, tidak ada masalah sama sekali. Tetapi bukan berarti bahwa Anda harus mengabaikannya. Perlemakan hati dapat meningkatkan risiko Anda terhadap kondisi yang lebih serius termasuk cirrhosis (pembentukan jaringan parut hati), penyakit hati, atau kanker hati. Mengapa? Ini karena penumpukan lemak merusak sel-sel hati Anda dan menyebabkan peradangan. Hati Anda adalah satu-satunya organ dalam tubuh yang dapat beregenerasi sendiri dengan cara mengganti sel yang lama dan rusak dengan yang baru. Saat hati Anda berusaha untuk menghilangkan lemak, jaringan parut menumpuk, sehingga hati Anda sulit untuk mengangkut nutrisi ke seluruh tubuh dan meningkatkan tekanan pada pembuluh darah di sekitarnya.

Komplikasi potensial dari hati dengan jaringan parut meliputi memar, pendarahan, gagal ginjal, kanker hati, diabetes dan akhirnya, gagal hati.

Mitos 2: Hanya pecandu alkohol yang mengalami perlemakan hati

Mitos bahwa hanya pecandu alkohol yang memiliki perlemakan hati
Terlepas apakah Anda merasa tergantung pada alkohol atau tidak, meminum apa pun melebihi 'batas aman' yang direkomendasikan dapat membuat tubuh Anda berisiko mengalami perlemakan hati.

“Batas aman untuk pria dan wanita adalah 14 unit alkohol per minggu,” jelas Dr. Lui. "Satu unit alkohol setara dengan 1 gelas kecil anggur (125ml), 1 gelas minuman keras atau setengah pint (236 ml) bir."

Faktor-faktor lain juga dapat membuat Anda berisiko terkena kondisi ini. Pola makan tinggi lemak dan tinggi gula bisa menjadi faktor penyumbang besar. Faktanya, jika Anda kelebihan berat badan atau menderita diabetes, Anda berisiko terkena perlemakan hati sebesar lebih dari 30%.

Penyebab potensial lainnya termasuk:

  • Riwayat keluarga dengan perlemakan hati
  • Penurunan berat badan yang cepat
  • Konsumsi obat secara reguler seperti steroid

Perlemakan hati non-alkohol terkadang terjadi ketika hati secara alami berusaha untuk memecah lemak, yang dapat menyebabkan steatohepatitis non-alkohol (pembengkakan hati). Gejala pembengkakan termasuk mual, muntah, nyeri dan penyakit kuning (perubahan warna kulit menjadi kuning). Jika tidak diobati, ini dapat menyebabkan terbentuknya jaringan parut permanen dan gagal hati. Lebih jarang lagi, perlemakan hati muncul tiba-tiba selama kehamilan.

Mitos 3: Minum minuman keras lebih buruk daripada minum bir atau anggur

Mitos bahwa minuman keras lebih buruk daripada bir atau anggur
Jenis alkohol yang Anda minum tidak membuat perbedaan – itu semua tentang seberapa banyak yang Anda minum. “Batas aman ditetapkan pada 14 unit seminggu,” jelas Dr. Lui. “Di bawah batas ini, perlemakan hati alkoholik cenderung untuk tidak terjadi. Secara rutin lampauilah batas ini dan Anda lebih berkemungkinan membahayakan diri sendiri.”

Mitos 4: Penyakit perlemakan hati adalah kondisi langka

Mitos bahwa perlemakan hati jarang terjadi
Sayangnya, perlemakan hati menjadi semakin umum terjadi di seluruh dunia. Pola makan yang tidak sehat, budaya pesta minuman keras dan tingkat obesitas yang lebih tinggi di negara maju dapat menjadi alasan untuk hal ini.

"Epidemi baru penyakit hati adalah perlemakan hati," kata Dr. Lui. “Sekitar 25 – 30% dari populasi umum mungkin memiliki perlemakan hati, dan dari jumlah ini, sekitar 15% memiliki jenis yang lebih serius yang dapat menyebabkan sirosis dan kanker.

Di Amerika, perlemakan hati sekarang menjadi alasan paling umum kedua, dan akan segera menjadi alasan paling umum, untuk transplantasi hati. Kita perlu memperhatikan gaya hidup dan pola makan kita sehingga kita dapat mencegah hal serupa terjadi.

Mitos 5: Penyakit perlemakan hati tidak dapat dipulihkan

Mitos bahwa perlemakan hati tidak dapat dipulihkan
Saat ini, tidak ada obat yang dapat mengobati perlemakan hati. Namun, Anda dapat melakukan perubahan gaya hidup tertentu untuk mengurangi risiko Anda atau bahkan membalikkan kondisinya.

  • Hindari alkohol
  • Kurangi asupan gula Anda
  • Hentikan konsumsi makanan berlemak
  • Olahraga secara teratur
  • Pertahankan berat badan yang sehat
  • Kontrol kadar gula darah Anda

“Makan makanan sehat dengan banyak buah-buahan segar, sayuran, biji-bijian dan daging tanpa lemak seperti ayam dan ikan dapat membuat perbedaan besar dalam mengelola kondisi ini,” kata Dr. Lui.

Mitos 6: Wanita lebih cenderung menderita perlemakan hati

Women are more likely myth
“Mitos tersebut dianggap sebagai kasus di masa lalu, studi saat ini menunjukkan risiko yang sama untuk pria dan wanita,” jelas Dr. Lui.

Jika Anda khawatir tentang risiko perlemakan hati Anda atau menginginkan lebih banyak saran gaya hidup untuk menjaga kesehatan hati ayang baik, diskusikan dengan ahli gastroenterologi..

 

Artikel dibuat oleh Dr Lui Hock Foong, ahli gastroenterologi di Rumah Sakit Gleneagles

Referensi

Biggers, A. (2017, August 10). Fatty Liver (Hepatic Steatosis). Retrieved 6 July 2018 from https://www.healthline.com/health/fatty-liver#symptoms

Newman, T. (2018, March 2). What Does the Liver Do? Retrieved 6 July 2018 from https://www.medicalnewstoday.com/articles/305075.php

3.AGU.2018
img
Lui Hock Foong
Ahli Gastroenterologi
Gleneagles Hospital

Dr Lui Hock Foong is a gastroenterologist practising at Gleneagles Hospital, Singapore. He specialises in digestive disorders and liver transplant for liver diseases such as liver cancer and liver failure.